Kutemui ia dalam gerimis
Ketika langit mulai berubah warna
Berjalan sendiri membawa luka
asa memendar, terpancar di ujung tatap
Gerimis mengantarkannya pada waktu
:halimun menyelubungiku
ia berhenti sejenak
memilah luka di genggam tangannya
“Aku mencarimu!”, teriaknya
Samar terdengar di ujung telinga
Sorot tajamnya menghujam
membekukan halimun di sekitar tubuhku
:Aku kaku
terbungkus beku
Kulihat luka meleleh
ada darah yang mengalir di matanya
sesaat sebelum ia memutariku
dan kemudian berlalu
meninggalkan jejak darah
di tiap jengkal langkahnya
di ujung gerimis yang semakin kelam
paragraphdalamhujan : 4 Juni 2008
Kakang,
Kecup sayang yang kau kirim
Telah cukup membangkitkan semangatku
Meski pagi ini, akan sama dengan pagi-pagi yang lain
Semangkuk piring untuk bersama, seteguk air untuk dicecap berdua
:aku dan anakmu
Kemarau masih berlanjut
air semakin sulit didapat
kau masih ingat sawah kita, kakang?
Tak dapat menghasilkan apa-apa
Benih dan pupuk semakin melambung
Gajiku sebagai buruh cuci juga tidak mampu untuk mencukup anak kita
apalagi membeli pupuk
Hari terus berganti
Sudah lebih dari lima tahun sejak kepergianmu
Pulanglah, kakang
Kubaca di koran, kota semakin kejam
Kulihat di televisi,
Kota tak senang pada pendatang
yang tak punya keahlian
Kakang,
Kita masih akan tetap bisa bertahan,
mesti tanpa uang
Sebab uang bukan segalanya
Tak inginkah kau melihat bagaimana anakmu bertumbuh?
Ia semakin sering menanyakan bapaknya
Kami menunggu
dengan penuh rindu
Di Ujung desa kita
: purnama
Pijar gemintang musnah seketika
Ditiup angin yang kembara
Meluluhlantakkan rasa yang pernah ada
: Ini tentang kita
yang tak bisa mengikat rasa
itu yang pernah kau kata
Tapi di mana
tepi buaian yang pernah kau kenalkan?
Mungkin badai telah menghapus jejaknya
Sayangku,
Adakah kau tahu
saat waktu berlalu
aku semakin mendambamu
selalu
Cintaku, di gerbang hidup kau kutunggu
dalam sendiriku
seketika badai
seketika hujan
seketika petir menyambar
aku tenang karna hadirmu
Bukan di depan mataku
sebab itu tak selalu perlu
Cukuplah kau
Ada dalam hatiku
Aku terdampar di antara dua hati. Keduanya indah. Keduanya ada. Dan diam mengisi sunyi.
aku terdampar di dua hati. Yang membuat diam, dalam sunyi. Aku terhimpit dalam dua hati yang mengayomi
Dengan cara mereka yang tak aku mengerti
dan dalam diamku
Menikmati semua ini
sudah lebih dari waktu saat Kau pun berlalu dalam langkah yang Kau pilih sendiri menyusuri sisa sepi yang mengikat perih di dalamnya
Ataukah hanya kamuflase semu bahwa aku yang meninggalkanMU?
Aku tak kuasa berkata-kata pun saat bisu mengantarkan kita ke peraduan terakhirnya. Tersadar akan hampa yang menghampiri sisa sunyi dari jejakMu yang berlalu ataukah langkahku yang semakin tak tentu dan menjauh dariMU?
Sesaat pilu itu mengganggu Namun aku mesti harus berdiri meraba-raba dalam kegelapan mencari cahaya Kau tahu aku tersesat di jalan menujuMu
Kau tahu, aku begitu rapuh tanpa-MU
Maka ketika secercah sinar itu datang, tak lagi mendung ada di sisi kita. Dan kuraih tanganMu yang penuh permata dan air kesejukan. Aku dalam hangatMU
Dan kabut pun tak pernah datang lagi
Seperti batu, beku
Seperti hujan dingin dan basah
Bahkan ketika luka,
Kau hunuskan pedang
Aku tahu, aku mengerti
Hati telah mati
Duniapun terpupus sepi
Makna ini
bukan kata yang tanpa isi
Tutuplah semua pintu
dan aku
tak kan pernah
datang lagi
Hujan ini luruh
menyayat batin menjadi tangis
ada kelebat kilat dalam katanya tak sempat tersemat
hujan ini
mengoyak bagian mimpi manis
yang pernah singgah
di benak untuk jenak
hujan ini
menepikan diri dalam banyak arti
hujan ini
bagian luka yang tak jua terkuak
oleh waktu
yang berlalu
dan makin berlalu
terbawa lautan kelu…
Malam,
Pekat.
sebatang lilin di tangannya
nyalanya menari dalam gelap
ada kerjap pilu masa lalu
ada binar cinta yang merana
pelan pasti
leleh di tangannya
mengiring detik demi menit
menuju terang mentari
dan seketika lilin itu lenyap
melepuh tangan
dan pelahan diusapkan ke mukanya
: saat semburat kuning datang dari timur cakrawala
Pagi bening
Ada tetes embun di hijaunya daun
semilir angin pagi membelah lembah
kerjap mentari pagi yang baru bangun dari tidur panjangnya
pernik biru rindu menyapa
dan lihat…
serombongan kupu-kupu dengan sayap malaekatnya
menyerbu persada
dan berhenti di kuncup mawar di pojok halaman
sempat membuat wajah mungilnya mengembangkan sekuntum senyum
dibukanya pintu
melangkah dalam seribu satu asa
ya… ini adalah hari pertamanya
hari pertama untuk memulai langkah
belajar banyak hal.
Terbayang sudah senyum manis guru di kelas, wajah-wajah mungil sebayanya
yang akan mengajaknya belajar bersama
tak sabar, langkah kaki mungilnya semakin melebar, dan kemudian setengah berlari
dan tiba-tiba…………..
tak disadarainya ada seorang nenek tua yang matanya tak bisa membuka
di tepi jalan hendak ke seberang
dihentikannya langkah
wajah mungil itu meragu
ada banyak rindu akan hari ini
tapi
kemudian kaki mungilnya melangkah
menuju nenek tua, digandengnya dan ditanya hendak kemana
ke pasar katanya
sejenak dai terdiam, ia harus kembali ke arah berlawanan
ditetapkannya hati
di raihnya lengan nenek tua itu
ditemaninya berbelanja
dan diantarkan pulang ke rumahnya
tak terasa
mentari sudah ada di atas kepalanya
dia diam di rumpun melati tengah kota
tidak, gurunya pasti masih berada di sana besok pagi
teman-temannya juga
mama…………… mungkin akan sedikit marah
dari jauh dilihatnya teman-teman yang baru akan dikenalnya
sudah berjalan menuju pulang
akhirnya dia ikut melangkah pulang
mama pasti akan mengerti
aku pasti bisa menjelaskannya
dan esok hari pasti akan datang lagi
memaknai jutaan mimpi
untuk belajar lebih banyak lagi…
:untuk adek kecil yang penuh semangat dan kasih sayang
yang kutemui di ujung pagi ini
terima kasih untuk sebuah inspirasi…..