Mengejamu kini
seperti menanti hujan di tengah kemarau panjang
ada kelelahan, pun juga pengharapan
mengejamu kembali
di antara bulir-bulir tetesan embun di pagi hari
di antara semilir angin yang menerjang kabut pagi
Waktu yang membekukan antara
tak memberikan ruang bagi celah
terus memaksa kaki kita berlari jauh ke depan
tanpa menoleh lagi ke belakang
Ketika waktu juga yang akhirnya
menautkan kembali
relung-relung itu tetap saja beku
tak ada yg bisa dijalin lagi
karena tak satupun dapat terkendali
tak dimengerti
Mengejamu lagi
adalah membiarkan hujan turun di musimnya
menyalakan api ketika gelap menjala malam
dan memandang matahari terbenam di senja kala