paragraphdalamhujan

Juni 4, 2008

FATAMORGANA

Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori — paragraphdalamhujan @ 1:15 am

Kutemui ia dalam gerimis
Ketika langit mulai berubah warna
Berjalan sendiri membawa luka
asa memendar, terpancar di ujung tatap
Gerimis mengantarkannya pada waktu
:halimun menyelubungiku

ia berhenti sejenak
memilah luka di genggam tangannya

“Aku mencarimu!”, teriaknya

Samar terdengar di ujung telinga
Sorot tajamnya menghujam
membekukan halimun di sekitar tubuhku

:Aku kaku
terbungkus beku

Kulihat luka meleleh
ada darah yang mengalir di matanya
sesaat sebelum ia memutariku
dan kemudian berlalu
meninggalkan jejak darah
di tiap jengkal langkahnya

di ujung gerimis yang semakin kelam

paragraphdalamhujan : 4 Juni 2008

Mei 22, 2008

Sajak Istri Petani

Diarsipkan di bawah: Puisi — paragraphdalamhujan @ 4:57 am

Kakang,

Kecup sayang yang kau kirim

Telah cukup membangkitkan semangatku

Meski pagi ini, akan sama dengan pagi-pagi yang lain

Semangkuk piring untuk bersama, seteguk air untuk dicecap berdua

:aku dan anakmu

Kemarau masih berlanjut

air semakin sulit didapat

kau masih ingat sawah kita, kakang?

Tak dapat menghasilkan apa-apa

Benih dan pupuk semakin melambung

Gajiku sebagai buruh cuci juga tidak mampu untuk mencukup anak kita

apalagi membeli pupuk

Hari terus berganti

Sudah lebih dari lima tahun sejak kepergianmu

Pulanglah, kakang

Kubaca di koran, kota semakin kejam

Kulihat di televisi,

Kota tak senang pada pendatang

yang tak punya keahlian

Kakang,

Kita masih akan tetap bisa bertahan,

mesti tanpa uang

Sebab uang bukan segalanya

Tak inginkah kau melihat bagaimana anakmu bertumbuh?

Ia semakin sering menanyakan bapaknya

Kami menunggu

dengan penuh rindu

Di Ujung desa kita

 

 

Mei 15, 2008

Badai yang Singgah di Hatimu

Diarsipkan di bawah: Puisi — paragraphdalamhujan @ 12:46 am

: purnama

Pijar gemintang musnah seketika

Ditiup angin yang kembara

Meluluhlantakkan rasa yang pernah ada

: Ini tentang kita

yang tak bisa mengikat rasa

itu yang pernah kau kata

Tapi di mana

tepi buaian yang pernah kau kenalkan?

Mungkin badai telah menghapus jejaknya

 

April 28, 2008

RINDU

Diarsipkan di bawah: Puisi — Tag:, — paragraphdalamhujan @ 1:02 am

Sayangku,
Adakah kau tahu
saat waktu berlalu
aku semakin mendambamu
selalu
Cintaku, di gerbang hidup kau kutunggu
dalam sendiriku
seketika badai
seketika hujan
seketika petir menyambar
aku tenang karna hadirmu
Bukan di depan mataku
sebab itu tak selalu perlu
Cukuplah kau
Ada dalam hatiku

April 26, 2008

Dua hati

Diarsipkan di bawah: Puisi — Tag: — paragraphdalamhujan @ 4:49 am

Aku terdampar di antara dua hati. Keduanya indah. Keduanya ada. Dan diam mengisi sunyi.

aku terdampar di dua hati. Yang membuat diam, dalam sunyi. Aku terhimpit dalam dua hati yang mengayomi

Dengan cara mereka yang tak aku mengerti

dan dalam diamku

Menikmati semua ini

Februari 5, 2008

Dan Kabut Tak Pernah Nampak Lagi

Diarsipkan di bawah: Puisi — paragraphdalamhujan @ 8:01 am

sudah lebih dari waktu saat Kau pun berlalu dalam langkah yang Kau pilih sendiri menyusuri sisa sepi yang mengikat perih di dalamnya

Ataukah hanya kamuflase semu bahwa aku yang meninggalkanMU?

Aku tak kuasa berkata-kata pun saat bisu mengantarkan kita ke peraduan terakhirnya. Tersadar akan hampa yang menghampiri sisa sunyi dari jejakMu yang berlalu ataukah langkahku yang semakin tak tentu dan menjauh dariMU?

Sesaat pilu itu mengganggu Namun aku mesti harus berdiri meraba-raba dalam kegelapan mencari cahaya Kau tahu aku tersesat di jalan menujuMu

Kau tahu, aku begitu rapuh tanpa-MU

Maka ketika secercah sinar itu datang, tak lagi mendung ada di sisi kita. Dan kuraih tanganMu yang penuh permata dan air kesejukan. Aku dalam hangatMU

Dan kabut pun tak pernah datang lagi

Januari 31, 2008

Bisu

Diarsipkan di bawah: Puisi, sadness — paragraphdalamhujan @ 12:42 am

Seperti batu, beku

Seperti hujan dingin dan basah

Bahkan ketika luka,

Kau hunuskan pedang

Aku tahu, aku mengerti

Hati telah mati

Duniapun terpupus sepi

Makna ini

bukan kata yang tanpa isi

Tutuplah semua pintu

dan aku

tak kan pernah

datang lagi

Januari 25, 2008

Dalam hujan

Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori — Tag: — paragraphdalamhujan @ 3:42 am

Hujan ini luruh

menyayat batin menjadi tangis

ada kelebat kilat dalam katanya tak sempat tersemat

hujan ini

mengoyak bagian mimpi manis

yang pernah singgah

di benak untuk jenak

hujan ini

menepikan diri dalam banyak arti

hujan ini

bagian luka yang tak jua terkuak

oleh waktu

yang berlalu

dan makin berlalu

terbawa lautan kelu…

Januari 21, 2008

Sebatang Lilin

Diarsipkan di bawah: Puisi — paragraphdalamhujan @ 2:15 am

Malam,
Pekat.
sebatang lilin di tangannya
nyalanya menari dalam gelap
ada kerjap pilu masa lalu
ada binar cinta yang merana
pelan pasti
leleh di tangannya
mengiring detik demi menit
menuju terang mentari
dan seketika lilin itu lenyap
melepuh tangan
dan pelahan diusapkan ke mukanya
: saat semburat kuning datang dari timur cakrawala

Januari 14, 2008

Santunnya Kasih

Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori — paragraphdalamhujan @ 1:37 am

Pagi bening
Ada tetes embun di hijaunya daun
semilir angin pagi membelah lembah
kerjap mentari pagi yang baru bangun dari tidur panjangnya
pernik biru rindu menyapa
dan lihat…
serombongan kupu-kupu dengan sayap malaekatnya
menyerbu persada
dan berhenti di kuncup mawar di pojok halaman
sempat membuat wajah mungilnya mengembangkan sekuntum senyum
dibukanya pintu
melangkah dalam seribu satu asa
ya… ini adalah hari pertamanya
hari pertama untuk memulai langkah
belajar banyak hal.
Terbayang sudah senyum manis guru di kelas, wajah-wajah mungil sebayanya
yang akan mengajaknya belajar bersama
tak sabar, langkah kaki mungilnya semakin melebar, dan kemudian setengah berlari
dan tiba-tiba…………..
tak disadarainya ada seorang nenek tua yang matanya tak bisa membuka
di tepi jalan hendak ke seberang
dihentikannya langkah
wajah mungil itu meragu
ada banyak rindu akan hari ini
tapi
kemudian kaki mungilnya melangkah
menuju nenek tua, digandengnya dan ditanya hendak kemana
ke pasar katanya
sejenak dai terdiam, ia harus kembali ke arah berlawanan
ditetapkannya hati
di raihnya lengan nenek tua itu
ditemaninya berbelanja
dan diantarkan pulang ke rumahnya
tak terasa
mentari sudah ada di atas kepalanya
dia diam di rumpun melati tengah kota
tidak, gurunya pasti masih berada di sana besok pagi
teman-temannya juga
mama…………… mungkin akan sedikit marah
dari jauh dilihatnya teman-teman yang baru akan dikenalnya
sudah berjalan menuju pulang
akhirnya dia ikut melangkah pulang
mama pasti akan mengerti
aku pasti bisa menjelaskannya
dan esok hari pasti akan datang lagi
memaknai jutaan mimpi
untuk belajar lebih banyak lagi…

:untuk adek kecil yang penuh semangat dan kasih sayang
yang kutemui di ujung pagi ini
terima kasih untuk sebuah inspirasi…..

Tulisan sebelumnya

Blog pada WordPress.com.