Lagu Burung-burung

: BR

Ada lagu burung-burung di atas dahan

Ketika pagi membelah cakrawala

Sapuan warna langit merah menyala

Ada yang merekah di sela jari jemari

Kala kusambut senyummu sehangat mentari

Dan rasa yang terbersit dalam hati

Adalah gema takbir Illahi

Kuasa yang hidup dan menghidupkan kita

Dalam langkah yang tak mampu kita pahami

Dan jemari saling terkait

Menapaki hari

Tulus kusambut hangatmu

Dalam percikan nuansa pagi

Bersama lagu burung-burung

Yang hinggap di atas dahan

Komentar (1) »

L A R U T

Angin menerbangkan bulu-bulumu

menjauh,

meninggalkan luka-luka yang tersia

mengentaskan kelam yang nestapa

Birlah deru lagu berlalu

dienyahkan tapak sang waktu

tapi hidup adalah memberi arti

pada apa yang masih bisa diresapi

Dan aku melarut

dalam resapan sang waktu

Komentar (2) »

SAJAK I

Angin menderu

Saat ditasbihkannya namaku

Di atas gelepar ragamu

 

Jutaan badai pasir

Berhamburan dalam gema dzikir

Perahu terguncang di pesisir

 

Lalu diam diantara retak yang lindap

Kandas dalam peluh tak berdekap

Aku mematung dalam senyap

 

Komentar (2) »

Di Pantai

Kusapu ombak yang membelai wajahmu

Ketika angin membawa kabar ke hilir

dinding-dinding pecah

jendela-jendela kaca terbelah

dingin menyentuh ubin rumah

 

kuseret perahu yang terdampar di pantaimu

 kala pasak terbenam jauh di kedalaman buih

dan pada gelombang yang menghantam karang

 kukecup asinnya lautmu

Komentar (1) »

Di Beranda

: MZA

Menatap awan putih
Yang lalu turun menjadi tetes-tetes air
Kita sama terpaku
Di sini, di beranda kata
Tempat di mana kita
tak pernah merasakan asing dan keringnya cuaca
Ketika hujan kata-kata itu jatuh
Luruh di pangkuan waktu

Masih lekat pandangmu di mataku
Ketika kububuhkan tanda titik di ujung kalimatku
Lalu kau gelengkan kepalamu
Dengan lembut, menghapus tiap tiap huruf yang kutulis
Lalu tersenyum kepada angin
Yang alirnya menerbangkan kata-kata usang

Sungguh, aku tak hendak mengaduh
Ketika tanah menyerap segala air yang tergenang di atasnya
Tapi jangan kau usik kata
Yang di dalamnya tengah kuikat sebuah makna

Tegak kau berdiri
Berlalu ditengah derasnya hujan kata-kata
Deru angin mengaburkan pandangku
Namun masih dapat kueja huruf-huruf yang kau tinggalkan dijejakmu
: Mencintai sepenuh hati
Tak mesti harus saling memiliki

Komentar (2) »

K A L A

Nun….

kulihat bulan merah jambu turun
ditingkap cemara yang mendesir pelahan
kala kabut menyibakkan misteri kelabunya

Nun…
denting lagu yang terdengar kemudian
ditingkap alun senja yang beranjak dewasa
ada seuntai bayang turun di tengah halimun itu

bukan kau, pula aku
tak satupun di antara kita hadir
dalam bayang kabut

Nun…
kucoba lagi mengurai retas-retas masa
yang jatuh – bangun – jatuh lagi
tapi tak jua terbaca ujungnya

Nun…
kutinggalkan jejak
di antara keringnya rerumputan
yang dahaga oleh kemarau
berharap kelak
masa yang mengantarkan kita padanya

kala aku terbenam dijelaga

Komentar bertahan »

K A L A

Nun….

kulihat bulan merah jambu turun
ditingkap cemara yang mendesir pelahan
kala kabut menyibakkan misteri kelabunya

Nun…
denting lagu yang terdengar kemudian
ditingkap alun senja yang beranjak dewasa
ada seuntai bayang turun di tengah halimun itu

bukan kau, pula aku
tak satupun di antara kita hadir
dalam bayang kabut

Nun…
kucoba lagi mengurai retas-retas masa
yang jatuh – bangun – jatuh lagi
tapi tak jua terbaca ujungnya

Nun…
kutinggalkan jejak
di antara keringnya rerumputan
yang dahaga oleh kemarau
berharap kelak
masa yang mengantarkan kita padanya

kala aku terbenam dijelaga

Komentar (1) »

SAJAK RINDU

Menetes rindu
satu-satu
sore itu

langkahku ngilu
mengejar lirih bisikanmu
yang asing tertelan derai angin
lalu gemuruh
terbawa petir

gelap di lankahku
tak surut niat mengejarmu
lalu gulita merengkuhku

berputar
berputar dan terus
berputar

BLAAAAAARRRRRRRRRRRRR!!!!!!!!!!

Menetes rindu
satu-satu
sore itu

Komentar (9) »

PURNAMA

:Budi “Bodhot” Riyanto

Rembulan di genggam tanganku
Kupersembahkan sepenuhnya untukmu

Komentar bertahan »

PURNAMA

:Budi “Bodhot” Riyanto

 

Rembulan di genggam tanganku

kupersembahkan sepenuhnya padamu

Komentar (4) »