Arsip untuk Januari, 2008

Bisu

Seperti batu, beku

Seperti hujan dingin dan basah

Bahkan ketika luka,

Kau hunuskan pedang

Aku tahu, aku mengerti

Hati telah mati

Duniapun terpupus sepi

Makna ini

bukan kata yang tanpa isi

Tutuplah semua pintu

dan aku

tak kan pernah

datang lagi

Komentar (3) »

Dalam hujan

Hujan ini luruh

menyayat batin menjadi tangis

ada kelebat kilat dalam katanya tak sempat tersemat

hujan ini

mengoyak bagian mimpi manis

yang pernah singgah

di benak untuk jenak

hujan ini

menepikan diri dalam banyak arti

hujan ini

bagian luka yang tak jua terkuak

oleh waktu

yang berlalu

dan makin berlalu

terbawa lautan kelu…

Komentar (1) »

Sebatang Lilin

Malam,
Pekat.
sebatang lilin di tangannya
nyalanya menari dalam gelap
ada kerjap pilu masa lalu
ada binar cinta yang merana
pelan pasti
leleh di tangannya
mengiring detik demi menit
menuju terang mentari
dan seketika lilin itu lenyap
melepuh tangan
dan pelahan diusapkan ke mukanya
: saat semburat kuning datang dari timur cakrawala

Komentar (1) »

Santunnya Kasih

Pagi bening
Ada tetes embun di hijaunya daun
semilir angin pagi membelah lembah
kerjap mentari pagi yang baru bangun dari tidur panjangnya
pernik biru rindu menyapa
dan lihat…
serombongan kupu-kupu dengan sayap malaekatnya
menyerbu persada
dan berhenti di kuncup mawar di pojok halaman
sempat membuat wajah mungilnya mengembangkan sekuntum senyum
dibukanya pintu
melangkah dalam seribu satu asa
ya… ini adalah hari pertamanya
hari pertama untuk memulai langkah
belajar banyak hal.
Terbayang sudah senyum manis guru di kelas, wajah-wajah mungil sebayanya
yang akan mengajaknya belajar bersama
tak sabar, langkah kaki mungilnya semakin melebar, dan kemudian setengah berlari
dan tiba-tiba…………..
tak disadarainya ada seorang nenek tua yang matanya tak bisa membuka
di tepi jalan hendak ke seberang
dihentikannya langkah
wajah mungil itu meragu
ada banyak rindu akan hari ini
tapi
kemudian kaki mungilnya melangkah
menuju nenek tua, digandengnya dan ditanya hendak kemana
ke pasar katanya
sejenak dai terdiam, ia harus kembali ke arah berlawanan
ditetapkannya hati
di raihnya lengan nenek tua itu
ditemaninya berbelanja
dan diantarkan pulang ke rumahnya
tak terasa
mentari sudah ada di atas kepalanya
dia diam di rumpun melati tengah kota
tidak, gurunya pasti masih berada di sana besok pagi
teman-temannya juga
mama…………… mungkin akan sedikit marah
dari jauh dilihatnya teman-teman yang baru akan dikenalnya
sudah berjalan menuju pulang
akhirnya dia ikut melangkah pulang
mama pasti akan mengerti
aku pasti bisa menjelaskannya
dan esok hari pasti akan datang lagi
memaknai jutaan mimpi
untuk belajar lebih banyak lagi…

:untuk adek kecil yang penuh semangat dan kasih sayang
yang kutemui di ujung pagi ini
terima kasih untuk sebuah inspirasi…..

Komentar (5) »