Arsip untuk Februari, 2008

Dan Kabut Tak Pernah Nampak Lagi

sudah lebih dari waktu saat Kau pun berlalu dalam langkah yang Kau pilih sendiri menyusuri sisa sepi yang mengikat perih di dalamnya

Ataukah hanya kamuflase semu bahwa aku yang meninggalkanMU?

Aku tak kuasa berkata-kata pun saat bisu mengantarkan kita ke peraduan terakhirnya. Tersadar akan hampa yang menghampiri sisa sunyi dari jejakMu yang berlalu ataukah langkahku yang semakin tak tentu dan menjauh dariMU?

Sesaat pilu itu mengganggu Namun aku mesti harus berdiri meraba-raba dalam kegelapan mencari cahaya Kau tahu aku tersesat di jalan menujuMu

Kau tahu, aku begitu rapuh tanpa-MU

Maka ketika secercah sinar itu datang, tak lagi mendung ada di sisi kita. Dan kuraih tanganMu yang penuh permata dan air kesejukan. Aku dalam hangatMU

Dan kabut pun tak pernah datang lagi

Komentar (1) »