Arsip untuk Mei, 2008

Sajak Istri Petani

Kakang,

Kecup sayang yang kau kirim

Telah cukup membangkitkan semangatku

Meski pagi ini, akan sama dengan pagi-pagi yang lain

Semangkuk piring untuk bersama, seteguk air untuk dicecap berdua

:aku dan anakmu

Kemarau masih berlanjut

air semakin sulit didapat

kau masih ingat sawah kita, kakang?

Tak dapat menghasilkan apa-apa

Benih dan pupuk semakin melambung

Gajiku sebagai buruh cuci juga tidak mampu untuk mencukup anak kita

apalagi membeli pupuk

Hari terus berganti

Sudah lebih dari lima tahun sejak kepergianmu

Pulanglah, kakang

Kubaca di koran, kota semakin kejam

Kulihat di televisi,

Kota tak senang pada pendatang

yang tak punya keahlian

Kakang,

Kita masih akan tetap bisa bertahan,

mesti tanpa uang

Sebab uang bukan segalanya

Tak inginkah kau melihat bagaimana anakmu bertumbuh?

Ia semakin sering menanyakan bapaknya

Kami menunggu

dengan penuh rindu

Di Ujung desa kita

 

 

Komentar (7) »

Badai yang Singgah di Hatimu

: purnama

Pijar gemintang musnah seketika

Ditiup angin yang kembara

Meluluhlantakkan rasa yang pernah ada

: Ini tentang kita

yang tak bisa mengikat rasa

itu yang pernah kau kata

Tapi di mana

tepi buaian yang pernah kau kenalkan?

Mungkin badai telah menghapus jejaknya

 

Komentar (9) »