Kakang,
Kecup sayang yang kau kirim
Telah cukup membangkitkan semangatku
Meski pagi ini, akan sama dengan pagi-pagi yang lain
Semangkuk piring untuk bersama, seteguk air untuk dicecap berdua
:aku dan anakmu
Kemarau masih berlanjut
air semakin sulit didapat
kau masih ingat sawah kita, kakang?
Tak dapat menghasilkan apa-apa
Benih dan pupuk semakin melambung
Gajiku sebagai buruh cuci juga tidak mampu untuk mencukup anak kita
apalagi membeli pupuk
Hari terus berganti
Sudah lebih dari lima tahun sejak kepergianmu
Pulanglah, kakang
Kubaca di koran, kota semakin kejam
Kulihat di televisi,
Kota tak senang pada pendatang
yang tak punya keahlian
Kakang,
Kita masih akan tetap bisa bertahan,
mesti tanpa uang
Sebab uang bukan segalanya
Tak inginkah kau melihat bagaimana anakmu bertumbuh?
Ia semakin sering menanyakan bapaknya
Kami menunggu
dengan penuh rindu
Di Ujung desa kita