paragraphdalamhujan

Mei 15, 2008

Badai yang Singgah di Hatimu

Diarsipkan di bawah: Puisi — paragraphdalamhujan @ 12:46 am

: purnama

Pijar gemintang musnah seketika

Ditiup angin yang kembara

Meluluhlantakkan rasa yang pernah ada

: Ini tentang kita

yang tak bisa mengikat rasa

itu yang pernah kau kata

Tapi di mana

tepi buaian yang pernah kau kenalkan?

Mungkin badai telah menghapus jejaknya

 

& Komentar »

  1. ya ojok mungkan mungkin ta jeng2 . . .
    digolek’i bareng yo may . . . :P

    Komentar oleh ebeSS — Mei 16, 2008 @ 2:29 am

  2. Monggo bes, dipun padosi dhateng pundi?

    Komentar oleh mayssari — Mei 16, 2008 @ 6:05 am

  3. kalau sudah badai…

    mungkin mengungsi bisa jadi alternatif…

    Komentar oleh natazya — Mei 18, 2008 @ 6:46 pm

  4. jika badai telah menghapusnya,
    tak ada salah nya utk membangunnya kembali..
    pilihan ada pada pribadi..

    Komentar oleh oRiDo™ — Mei 21, 2008 @ 3:20 am

  5. badai ..?? humm ati2x tsunami .. *ngabur*

    Komentar oleh tintin — Mei 21, 2008 @ 3:49 am

  6. badai tropis paling ganas di dunia ini tapi…badai dingin ganas juga……jangan sampai badai deh…. :)

    Komentar oleh Yoyo — Mei 21, 2008 @ 6:23 am

  7. Tentang kita? siapa jaa tuh?
    klo sy yang baca….berarti sy ikut jg ngga?

    slm….

    Komentar oleh hafidzi — Mei 21, 2008 @ 4:13 pm

  8. @natazya : iya abis ini ngungsi ke tempatmu ya?
    @oRIDO : Iya, mungkin, sudah dibangun lagi. Butuh waktu dan keberanian yang tidak mudah
    @tintin : jangan ah, tsunami itu mengerikan loh..
    @yoyo : iya, jangan sampai yah?
    @hafidzi : lah situ mau ndak? jadi bagian dari “kita”

    Komentar oleh paragraphdalamhujan — Mei 22, 2008 @ 4:17 am

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

Blog pada WordPress.com.