Januari 29, 2009
· Disimpan dalam Puisi
Kusapu ombak yang membelai wajahmu
Ketika angin membawa kabar ke hilir
dinding-dinding pecah
jendela-jendela kaca terbelah
dingin menyentuh ubin rumah
kuseret perahu yang terdampar di pantaimu
kala pasak terbenam jauh di kedalaman buih
dan pada gelombang yang menghantam karang
kukecup asinnya lautmu
Januari 23, 2009
· Disimpan dalam Puisi, cinta, sadness
: MZA
Menatap awan putih
Yang lalu turun menjadi tetes-tetes air
Kita sama terpaku
Di sini, di beranda kata
Tempat di mana kita
tak pernah merasakan asing dan keringnya cuaca
Ketika hujan kata-kata itu jatuh
Luruh di pangkuan waktu
Masih lekat pandangmu di mataku
Ketika kububuhkan tanda titik di ujung kalimatku
Lalu kau gelengkan kepalamu
Dengan lembut, menghapus tiap tiap huruf yang kutulis
Lalu tersenyum kepada angin
Yang alirnya menerbangkan kata-kata usang
Sungguh, aku tak hendak mengaduh
Ketika tanah menyerap segala air yang tergenang di atasnya
Tapi jangan kau usik kata
Yang di dalamnya tengah kuikat sebuah makna
Tegak kau berdiri
Berlalu ditengah derasnya hujan kata-kata
Deru angin mengaburkan pandangku
Namun masih dapat kueja huruf-huruf yang kau tinggalkan dijejakmu
: Mencintai sepenuh hati
Tak mesti harus saling memiliki
Januari 21, 2009
· Disimpan dalam Puisi
Nun….
kulihat bulan merah jambu turun
ditingkap cemara yang mendesir pelahan
kala kabut menyibakkan misteri kelabunya
Nun…
denting lagu yang terdengar kemudian
ditingkap alun senja yang beranjak dewasa
ada seuntai bayang turun di tengah halimun itu
bukan kau, pula aku
tak satupun di antara kita hadir
dalam bayang kabut
Nun…
kucoba lagi mengurai retas-retas masa
yang jatuh – bangun – jatuh lagi
tapi tak jua terbaca ujungnya
Nun…
kutinggalkan jejak
di antara keringnya rerumputan
yang dahaga oleh kemarau
berharap kelak
masa yang mengantarkan kita padanya
kala aku terbenam dijelaga
Januari 21, 2009
· Disimpan dalam Tak Berkategori
Nun….
kulihat bulan merah jambu turun
ditingkap cemara yang mendesir pelahan
kala kabut menyibakkan misteri kelabunya
Nun…
denting lagu yang terdengar kemudian
ditingkap alun senja yang beranjak dewasa
ada seuntai bayang turun di tengah halimun itu
bukan kau, pula aku
tak satupun di antara kita hadir
dalam bayang kabut
Nun…
kucoba lagi mengurai retas-retas masa
yang jatuh – bangun – jatuh lagi
tapi tak jua terbaca ujungnya
Nun…
kutinggalkan jejak
di antara keringnya rerumputan
yang dahaga oleh kemarau
berharap kelak
masa yang mengantarkan kita padanya
kala aku terbenam dijelaga