Arsip untuk Januari, 2009

Di Pantai

Kusapu ombak yang membelai wajahmu

Ketika angin membawa kabar ke hilir

dinding-dinding pecah

jendela-jendela kaca terbelah

dingin menyentuh ubin rumah

 

kuseret perahu yang terdampar di pantaimu

 kala pasak terbenam jauh di kedalaman buih

dan pada gelombang yang menghantam karang

 kukecup asinnya lautmu

Komentar (1) »

Di Beranda

: MZA

Menatap awan putih
Yang lalu turun menjadi tetes-tetes air
Kita sama terpaku
Di sini, di beranda kata
Tempat di mana kita
tak pernah merasakan asing dan keringnya cuaca
Ketika hujan kata-kata itu jatuh
Luruh di pangkuan waktu

Masih lekat pandangmu di mataku
Ketika kububuhkan tanda titik di ujung kalimatku
Lalu kau gelengkan kepalamu
Dengan lembut, menghapus tiap tiap huruf yang kutulis
Lalu tersenyum kepada angin
Yang alirnya menerbangkan kata-kata usang

Sungguh, aku tak hendak mengaduh
Ketika tanah menyerap segala air yang tergenang di atasnya
Tapi jangan kau usik kata
Yang di dalamnya tengah kuikat sebuah makna

Tegak kau berdiri
Berlalu ditengah derasnya hujan kata-kata
Deru angin mengaburkan pandangku
Namun masih dapat kueja huruf-huruf yang kau tinggalkan dijejakmu
: Mencintai sepenuh hati
Tak mesti harus saling memiliki

Komentar (2) »

K A L A

Nun….

kulihat bulan merah jambu turun
ditingkap cemara yang mendesir pelahan
kala kabut menyibakkan misteri kelabunya

Nun…
denting lagu yang terdengar kemudian
ditingkap alun senja yang beranjak dewasa
ada seuntai bayang turun di tengah halimun itu

bukan kau, pula aku
tak satupun di antara kita hadir
dalam bayang kabut

Nun…
kucoba lagi mengurai retas-retas masa
yang jatuh – bangun – jatuh lagi
tapi tak jua terbaca ujungnya

Nun…
kutinggalkan jejak
di antara keringnya rerumputan
yang dahaga oleh kemarau
berharap kelak
masa yang mengantarkan kita padanya

kala aku terbenam dijelaga

Komentar bertahan »

K A L A

Nun….

kulihat bulan merah jambu turun
ditingkap cemara yang mendesir pelahan
kala kabut menyibakkan misteri kelabunya

Nun…
denting lagu yang terdengar kemudian
ditingkap alun senja yang beranjak dewasa
ada seuntai bayang turun di tengah halimun itu

bukan kau, pula aku
tak satupun di antara kita hadir
dalam bayang kabut

Nun…
kucoba lagi mengurai retas-retas masa
yang jatuh – bangun – jatuh lagi
tapi tak jua terbaca ujungnya

Nun…
kutinggalkan jejak
di antara keringnya rerumputan
yang dahaga oleh kemarau
berharap kelak
masa yang mengantarkan kita padanya

kala aku terbenam dijelaga

Komentar (1) »