: MZA
Menatap awan putih
Yang lalu turun menjadi tetes-tetes air
Kita sama terpaku
Di sini, di beranda kata
Tempat di mana kita
tak pernah merasakan asing dan keringnya cuaca
Ketika hujan kata-kata itu jatuh
Luruh di pangkuan waktu
Masih lekat pandangmu di mataku
Ketika kububuhkan tanda titik di ujung kalimatku
Lalu kau gelengkan kepalamu
Dengan lembut, menghapus tiap tiap huruf yang kutulis
Lalu tersenyum kepada angin
Yang alirnya menerbangkan kata-kata usang
Sungguh, aku tak hendak mengaduh
Ketika tanah menyerap segala air yang tergenang di atasnya
Tapi jangan kau usik kata
Yang di dalamnya tengah kuikat sebuah makna
Tegak kau berdiri
Berlalu ditengah derasnya hujan kata-kata
Deru angin mengaburkan pandangku
Namun masih dapat kueja huruf-huruf yang kau tinggalkan dijejakmu
: Mencintai sepenuh hati
Tak mesti harus saling memiliki
juno berkata,
Juni 30, 2009 @ 2:49 pm
“… mencintai sepenuh hati… tak mesti (harus) saling memiliki!”
Pemilik blog ini, siapapun Anda, … makin sering saya membaca puisi-puisi Anda, makin dalam saya jatuh cinta pada Anda dan makin kepayang saya dalam rasa penasaran. Blog yang cantik sekal!
Salam hangat,
Juno Bis
juno_bis@yahoo.com
paragraphdalamhujan berkata,
Juli 2, 2009 @ 1:33 am
Terima kasih. tapi itu hanya baris kata2 saja. hanya mengikat makna yang saling terserak sebelumnya…