Angin menderu
Saat ditasbihkannya namaku
Di atas gelepar ragamu
Jutaan badai pasir
Berhamburan dalam gema dzikir
Perahu terguncang di pesisir
Lalu diam diantara retak yang lindap
Kandas dalam peluh tak berdekap
Aku mematung dalam senyap
Angin menderu
Saat ditasbihkannya namaku
Di atas gelepar ragamu
Jutaan badai pasir
Berhamburan dalam gema dzikir
Perahu terguncang di pesisir
Lalu diam diantara retak yang lindap
Kandas dalam peluh tak berdekap
Aku mematung dalam senyap
Kusapu ombak yang membelai wajahmu
Ketika angin membawa kabar ke hilir
dinding-dinding pecah
jendela-jendela kaca terbelah
dingin menyentuh ubin rumah
kuseret perahu yang terdampar di pantaimu
kala pasak terbenam jauh di kedalaman buih
dan pada gelombang yang menghantam karang
kukecup asinnya lautmu
: MZA
Menatap awan putih
Yang lalu turun menjadi tetes-tetes air
Kita sama terpaku
Di sini, di beranda kata
Tempat di mana kita
tak pernah merasakan asing dan keringnya cuaca
Ketika hujan kata-kata itu jatuh
Luruh di pangkuan waktu
Masih lekat pandangmu di mataku
Ketika kububuhkan tanda titik di ujung kalimatku
Lalu kau gelengkan kepalamu
Dengan lembut, menghapus tiap tiap huruf yang kutulis
Lalu tersenyum kepada angin
Yang alirnya menerbangkan kata-kata usang
Sungguh, aku tak hendak mengaduh
Ketika tanah menyerap segala air yang tergenang di atasnya
Tapi jangan kau usik kata
Yang di dalamnya tengah kuikat sebuah makna
Tegak kau berdiri
Berlalu ditengah derasnya hujan kata-kata
Deru angin mengaburkan pandangku
Namun masih dapat kueja huruf-huruf yang kau tinggalkan dijejakmu
: Mencintai sepenuh hati
Tak mesti harus saling memiliki
Nun….
kulihat bulan merah jambu turun
ditingkap cemara yang mendesir pelahan
kala kabut menyibakkan misteri kelabunya
Nun…
denting lagu yang terdengar kemudian
ditingkap alun senja yang beranjak dewasa
ada seuntai bayang turun di tengah halimun itu
bukan kau, pula aku
tak satupun di antara kita hadir
dalam bayang kabut
Nun…
kucoba lagi mengurai retas-retas masa
yang jatuh – bangun – jatuh lagi
tapi tak jua terbaca ujungnya
Nun…
kutinggalkan jejak
di antara keringnya rerumputan
yang dahaga oleh kemarau
berharap kelak
masa yang mengantarkan kita padanya
kala aku terbenam dijelaga
Menetes rindu
satu-satu
sore itu
langkahku ngilu
mengejar lirih bisikanmu
yang asing tertelan derai angin
lalu gemuruh
terbawa petir
gelap di lankahku
tak surut niat mengejarmu
lalu gulita merengkuhku
berputar
berputar dan terus
berputar
BLAAAAAARRRRRRRRRRRRR!!!!!!!!!!
Menetes rindu
satu-satu
sore itu
:Budi “Bodhot” Riyanto
Rembulan di genggam tanganku
Kupersembahkan sepenuhnya untukmu
:Budi “Bodhot” Riyanto
Rembulan di genggam tanganku
kupersembahkan sepenuhnya padamu
Kulihat bulan purnama semalam
cahyanya bening memendar
menghalau awan berkabut di malam berbintang
Tak ada kata terucap
memandang lukisan malam yang luar biasa
kulihat bulan purnama semalam
mengantarkan cahaya di pekatnya malam
dingin hembus angin laksana tasbihnya gemintang
tersungkur aku
dalam sujud panjang
di malam berpurnama semalam
Mengarung luas samudra
mengepak sayap di cakrawala
mencari arti yang tersembunyi
dibalik kebesaran mayapada
laksana ombak
menerjang deras arus kehidupan
dan kemudian sunyi
menitik di tetes hari-hari
masih ada sampan yang terbawa kemarin
terombang-ambing di lautan lepas
tanpa pedoman
dan kemudian karam
terdampar di kehidupan
begitu sunyi
titik-titik kecil
menyebar
menjadi debu
dan berserakan sepanjang lautan
begitulah kita
ketika berhadapan
dengan kebesaran-NYA
maka kutepikan diri
di semenanjungmu sahaja
memeluk erat rasa
yang terus bersemayam didada
masih teramat panjang
perjalanan
yang mesti kulalui
namun pada-Mu jua
segala akan bertepi
tiba-tiba
aku seperti merindu
nyanyian persada
yang menggelorakan semangat
aku seperti mimpi
berenang di lautan luas
tanpa tepi
aku burung layang-layang
yang terbang lepas di angkasa
mengobarkan
bakti
ke pangkuan pertiwi
aku merindu masa
di mana semangat menggelora dalam dada
tanpa raut semu
dan topeng wajah tak bernama
namun
aku hanyalah setitik debu kecil
yang terbang tertiup angin
tak ada yang bisa kuberi
bagimu
ibu pertiwi