Arsip untuk sadness

SAJAK I

Angin menderu

Saat ditasbihkannya namaku

Di atas gelepar ragamu

 

Jutaan badai pasir

Berhamburan dalam gema dzikir

Perahu terguncang di pesisir

 

Lalu diam diantara retak yang lindap

Kandas dalam peluh tak berdekap

Aku mematung dalam senyap

 

Komentar (2) »

Di Beranda

: MZA

Menatap awan putih
Yang lalu turun menjadi tetes-tetes air
Kita sama terpaku
Di sini, di beranda kata
Tempat di mana kita
tak pernah merasakan asing dan keringnya cuaca
Ketika hujan kata-kata itu jatuh
Luruh di pangkuan waktu

Masih lekat pandangmu di mataku
Ketika kububuhkan tanda titik di ujung kalimatku
Lalu kau gelengkan kepalamu
Dengan lembut, menghapus tiap tiap huruf yang kutulis
Lalu tersenyum kepada angin
Yang alirnya menerbangkan kata-kata usang

Sungguh, aku tak hendak mengaduh
Ketika tanah menyerap segala air yang tergenang di atasnya
Tapi jangan kau usik kata
Yang di dalamnya tengah kuikat sebuah makna

Tegak kau berdiri
Berlalu ditengah derasnya hujan kata-kata
Deru angin mengaburkan pandangku
Namun masih dapat kueja huruf-huruf yang kau tinggalkan dijejakmu
: Mencintai sepenuh hati
Tak mesti harus saling memiliki

Komentar (2) »

SAJAK RINDU

Menetes rindu
satu-satu
sore itu

langkahku ngilu
mengejar lirih bisikanmu
yang asing tertelan derai angin
lalu gemuruh
terbawa petir

gelap di lankahku
tak surut niat mengejarmu
lalu gulita merengkuhku

berputar
berputar dan terus
berputar

BLAAAAAARRRRRRRRRRRRR!!!!!!!!!!

Menetes rindu
satu-satu
sore itu

Komentar (9) »

Ode untuk Surti

perempuan,

melangkah sendirian

ada merah di matanya

menyala

 

pekat

menyisir langkahnya

saat mathri terbelah

tepat di atas kepalanya

 

perempuan diam

tangannya terkepal

langkahnya terhenti

tepat

di gerbang matahari

 

kecewa

yang bertumpuk

dan terus menumpuk

meninggalkan seonggok luka

membuatnya menjadi singa

 

semua bukan salahnya,

ketika keadaan

memaksanya menerkam sesama

bukankah sudah terlalu banyak korban?

 

dari mereka yang biasa saja

menjadi seorang yang penuh angkara

 

karena ketidakpuasan

 

entah pada siapa

 

Komentar (6) »

Bisu

Seperti batu, beku

Seperti hujan dingin dan basah

Bahkan ketika luka,

Kau hunuskan pedang

Aku tahu, aku mengerti

Hati telah mati

Duniapun terpupus sepi

Makna ini

bukan kata yang tanpa isi

Tutuplah semua pintu

dan aku

tak kan pernah

datang lagi

Komentar (3) »

Tangisan Menjelang Akhir Tahun

Gemuruh itu datang lagi

Laksana pekat membelenggu bumi

dan Hujan datang mengguyur bumi yang makin renta

tanpa jeda……… Tak disisakan keanggunan rinainya

begitu saja

Seluruh sungai meluap menggenang kota

namun hujan tak jua reda

isak tangis, teriakan bayi

kepanikan luar biasa melanda kota kecil itu

dan hujan pun semakin deras

tanggul-tanggul itupun tak kuasa menahan luapan air bah…..

semakin lama semakin bertambah

dan semakin banyak rumah yang terbenam

tiba-tiba longsor datang di luar sisi kota

puluhan jiwa melayang

terbawa bencana

marilah saudara

kita buka mata dan telinga

tak peduli suku bangsa, ras, warna kulit agama atau apalah

karena ini adalah sebuah peringatan besar bagi kita

tiba saatnya saling berbagi kepada sesama

untuk redakan tangisan

tutup tahun ini dengan kepedulian

dan sunggingkan sedikit senyum untuk mereka

Komentar (2) »

LETIH

Perjalanan ini
melelahkan ragaku
juga jiwaku
saat kusadari
jalan semakin berliku penuh batu
dan akupun jatuh
tersungkur
terpekur dalam sujud berkepanjangan

Komentar (2) »