Angin menderu
Saat ditasbihkannya namaku
Di atas gelepar ragamu
Jutaan badai pasir
Berhamburan dalam gema dzikir
Perahu terguncang di pesisir
Lalu diam diantara retak yang lindap
Kandas dalam peluh tak berdekap
Aku mematung dalam senyap
Angin menderu
Saat ditasbihkannya namaku
Di atas gelepar ragamu
Jutaan badai pasir
Berhamburan dalam gema dzikir
Perahu terguncang di pesisir
Lalu diam diantara retak yang lindap
Kandas dalam peluh tak berdekap
Aku mematung dalam senyap
: MZA
Menatap awan putih
Yang lalu turun menjadi tetes-tetes air
Kita sama terpaku
Di sini, di beranda kata
Tempat di mana kita
tak pernah merasakan asing dan keringnya cuaca
Ketika hujan kata-kata itu jatuh
Luruh di pangkuan waktu
Masih lekat pandangmu di mataku
Ketika kububuhkan tanda titik di ujung kalimatku
Lalu kau gelengkan kepalamu
Dengan lembut, menghapus tiap tiap huruf yang kutulis
Lalu tersenyum kepada angin
Yang alirnya menerbangkan kata-kata usang
Sungguh, aku tak hendak mengaduh
Ketika tanah menyerap segala air yang tergenang di atasnya
Tapi jangan kau usik kata
Yang di dalamnya tengah kuikat sebuah makna
Tegak kau berdiri
Berlalu ditengah derasnya hujan kata-kata
Deru angin mengaburkan pandangku
Namun masih dapat kueja huruf-huruf yang kau tinggalkan dijejakmu
: Mencintai sepenuh hati
Tak mesti harus saling memiliki
Menetes rindu
satu-satu
sore itu
langkahku ngilu
mengejar lirih bisikanmu
yang asing tertelan derai angin
lalu gemuruh
terbawa petir
gelap di lankahku
tak surut niat mengejarmu
lalu gulita merengkuhku
berputar
berputar dan terus
berputar
BLAAAAAARRRRRRRRRRRRR!!!!!!!!!!
Menetes rindu
satu-satu
sore itu
perempuan,
melangkah sendirian
ada merah di matanya
menyala
pekat
menyisir langkahnya
saat mathri terbelah
tepat di atas kepalanya
perempuan diam
tangannya terkepal
langkahnya terhenti
tepat
di gerbang matahari
kecewa
yang bertumpuk
dan terus menumpuk
meninggalkan seonggok luka
membuatnya menjadi singa
semua bukan salahnya,
ketika keadaan
memaksanya menerkam sesama
bukankah sudah terlalu banyak korban?
dari mereka yang biasa saja
menjadi seorang yang penuh angkara
karena ketidakpuasan
entah pada siapa
Seperti batu, beku
Seperti hujan dingin dan basah
Bahkan ketika luka,
Kau hunuskan pedang
Aku tahu, aku mengerti
Hati telah mati
Duniapun terpupus sepi
Makna ini
bukan kata yang tanpa isi
Tutuplah semua pintu
dan aku
tak kan pernah
datang lagi
Gemuruh itu datang lagi
Laksana pekat membelenggu bumi
dan Hujan datang mengguyur bumi yang makin renta
tanpa jeda……… Tak disisakan keanggunan rinainya
begitu saja
Seluruh sungai meluap menggenang kota
namun hujan tak jua reda
isak tangis, teriakan bayi
kepanikan luar biasa melanda kota kecil itu
dan hujan pun semakin deras
tanggul-tanggul itupun tak kuasa menahan luapan air bah…..
semakin lama semakin bertambah
dan semakin banyak rumah yang terbenam
tiba-tiba longsor datang di luar sisi kota
puluhan jiwa melayang
terbawa bencana
marilah saudara
kita buka mata dan telinga
tak peduli suku bangsa, ras, warna kulit agama atau apalah
karena ini adalah sebuah peringatan besar bagi kita
tiba saatnya saling berbagi kepada sesama
untuk redakan tangisan
tutup tahun ini dengan kepedulian
dan sunggingkan sedikit senyum untuk mereka
Perjalanan ini
melelahkan ragaku
juga jiwaku
saat kusadari
jalan semakin berliku penuh batu
dan akupun jatuh
tersungkur
terpekur dalam sujud berkepanjangan