Juli 7, 2009
· Disimpan dalam Tak Berkategori
: BR
Ada lagu burung-burung di atas dahan
Ketika pagi membelah cakrawala
Sapuan warna langit merah menyala
Ada yang merekah di sela jari jemari
Kala kusambut senyummu sehangat mentari
Dan rasa yang terbersit dalam hati
Adalah gema takbir Illahi
Kuasa yang hidup dan menghidupkan kita
Dalam langkah yang tak mampu kita pahami
Dan jemari saling terkait
Menapaki hari
Tulus kusambut hangatmu
Dalam percikan nuansa pagi
Bersama lagu burung-burung
Yang hinggap di atas dahan
Juli 2, 2009
· Disimpan dalam Tak Berkategori
Angin menerbangkan bulu-bulumu
menjauh,
meninggalkan luka-luka yang tersia
mengentaskan kelam yang nestapa
Birlah deru lagu berlalu
dienyahkan tapak sang waktu
tapi hidup adalah memberi arti
pada apa yang masih bisa diresapi
Dan aku melarut
dalam resapan sang waktu
Januari 21, 2009
· Disimpan dalam Tak Berkategori
Nun….
kulihat bulan merah jambu turun
ditingkap cemara yang mendesir pelahan
kala kabut menyibakkan misteri kelabunya
Nun…
denting lagu yang terdengar kemudian
ditingkap alun senja yang beranjak dewasa
ada seuntai bayang turun di tengah halimun itu
bukan kau, pula aku
tak satupun di antara kita hadir
dalam bayang kabut
Nun…
kucoba lagi mengurai retas-retas masa
yang jatuh – bangun – jatuh lagi
tapi tak jua terbaca ujungnya
Nun…
kutinggalkan jejak
di antara keringnya rerumputan
yang dahaga oleh kemarau
berharap kelak
masa yang mengantarkan kita padanya
kala aku terbenam dijelaga
Juni 4, 2008
· Disimpan dalam Tak Berkategori
Kutemui ia dalam gerimis
Ketika langit mulai berubah warna
Berjalan sendiri membawa luka
asa memendar, terpancar di ujung tatap
Gerimis mengantarkannya pada waktu
:halimun menyelubungiku
ia berhenti sejenak
memilah luka di genggam tangannya
“Aku mencarimu!”, teriaknya
Samar terdengar di ujung telinga
Sorot tajamnya menghujam
membekukan halimun di sekitar tubuhku
:Aku kaku
terbungkus beku
Kulihat luka meleleh
ada darah yang mengalir di matanya
sesaat sebelum ia memutariku
dan kemudian berlalu
meninggalkan jejak darah
di tiap jengkal langkahnya
di ujung gerimis yang semakin kelam
paragraphdalamhujan : 4 Juni 2008
Januari 25, 2008
· Disimpan dalam Tak Berkategori · Tagged Lagi sedih
Hujan ini luruh
menyayat batin menjadi tangis
ada kelebat kilat dalam katanya tak sempat tersemat
hujan ini
mengoyak bagian mimpi manis
yang pernah singgah
di benak untuk jenak
hujan ini
menepikan diri dalam banyak arti
hujan ini
bagian luka yang tak jua terkuak
oleh waktu
yang berlalu
dan makin berlalu
terbawa lautan kelu…
Januari 14, 2008
· Disimpan dalam Tak Berkategori
Pagi bening
Ada tetes embun di hijaunya daun
semilir angin pagi membelah lembah
kerjap mentari pagi yang baru bangun dari tidur panjangnya
pernik biru rindu menyapa
dan lihat…
serombongan kupu-kupu dengan sayap malaekatnya
menyerbu persada
dan berhenti di kuncup mawar di pojok halaman
sempat membuat wajah mungilnya mengembangkan sekuntum senyum
dibukanya pintu
melangkah dalam seribu satu asa
ya… ini adalah hari pertamanya
hari pertama untuk memulai langkah
belajar banyak hal.
Terbayang sudah senyum manis guru di kelas, wajah-wajah mungil sebayanya
yang akan mengajaknya belajar bersama
tak sabar, langkah kaki mungilnya semakin melebar, dan kemudian setengah berlari
dan tiba-tiba…………..
tak disadarainya ada seorang nenek tua yang matanya tak bisa membuka
di tepi jalan hendak ke seberang
dihentikannya langkah
wajah mungil itu meragu
ada banyak rindu akan hari ini
tapi
kemudian kaki mungilnya melangkah
menuju nenek tua, digandengnya dan ditanya hendak kemana
ke pasar katanya
sejenak dai terdiam, ia harus kembali ke arah berlawanan
ditetapkannya hati
di raihnya lengan nenek tua itu
ditemaninya berbelanja
dan diantarkan pulang ke rumahnya
tak terasa
mentari sudah ada di atas kepalanya
dia diam di rumpun melati tengah kota
tidak, gurunya pasti masih berada di sana besok pagi
teman-temannya juga
mama…………… mungkin akan sedikit marah
dari jauh dilihatnya teman-teman yang baru akan dikenalnya
sudah berjalan menuju pulang
akhirnya dia ikut melangkah pulang
mama pasti akan mengerti
aku pasti bisa menjelaskannya
dan esok hari pasti akan datang lagi
memaknai jutaan mimpi
untuk belajar lebih banyak lagi…
:untuk adek kecil yang penuh semangat dan kasih sayang
yang kutemui di ujung pagi ini
terima kasih untuk sebuah inspirasi…..
Desember 24, 2007
· Disimpan dalam Tak Berkategori
Desember 19, 2007
· Disimpan dalam Tak Berkategori · Tagged rindu, waktu
satu
tak lebih
dan tak kurang
hanya satu
tempat lubuk merindu
kelak
satu pula tempat tertuju
ketika luruh
mengayuh waktu
menuju terbenamnya matahari