Arsip untuk Tak Berkategori

Lagu Burung-burung

: BR

Ada lagu burung-burung di atas dahan

Ketika pagi membelah cakrawala

Sapuan warna langit merah menyala

Ada yang merekah di sela jari jemari

Kala kusambut senyummu sehangat mentari

Dan rasa yang terbersit dalam hati

Adalah gema takbir Illahi

Kuasa yang hidup dan menghidupkan kita

Dalam langkah yang tak mampu kita pahami

Dan jemari saling terkait

Menapaki hari

Tulus kusambut hangatmu

Dalam percikan nuansa pagi

Bersama lagu burung-burung

Yang hinggap di atas dahan

Komentar (1) »

L A R U T

Angin menerbangkan bulu-bulumu

menjauh,

meninggalkan luka-luka yang tersia

mengentaskan kelam yang nestapa

Birlah deru lagu berlalu

dienyahkan tapak sang waktu

tapi hidup adalah memberi arti

pada apa yang masih bisa diresapi

Dan aku melarut

dalam resapan sang waktu

Komentar (2) »

K A L A

Nun….

kulihat bulan merah jambu turun
ditingkap cemara yang mendesir pelahan
kala kabut menyibakkan misteri kelabunya

Nun…
denting lagu yang terdengar kemudian
ditingkap alun senja yang beranjak dewasa
ada seuntai bayang turun di tengah halimun itu

bukan kau, pula aku
tak satupun di antara kita hadir
dalam bayang kabut

Nun…
kucoba lagi mengurai retas-retas masa
yang jatuh – bangun – jatuh lagi
tapi tak jua terbaca ujungnya

Nun…
kutinggalkan jejak
di antara keringnya rerumputan
yang dahaga oleh kemarau
berharap kelak
masa yang mengantarkan kita padanya

kala aku terbenam dijelaga

Komentar (1) »

FATAMORGANA

Kutemui ia dalam gerimis
Ketika langit mulai berubah warna
Berjalan sendiri membawa luka
asa memendar, terpancar di ujung tatap
Gerimis mengantarkannya pada waktu
:halimun menyelubungiku

ia berhenti sejenak
memilah luka di genggam tangannya

“Aku mencarimu!”, teriaknya

Samar terdengar di ujung telinga
Sorot tajamnya menghujam
membekukan halimun di sekitar tubuhku

:Aku kaku
terbungkus beku

Kulihat luka meleleh
ada darah yang mengalir di matanya
sesaat sebelum ia memutariku
dan kemudian berlalu
meninggalkan jejak darah
di tiap jengkal langkahnya

di ujung gerimis yang semakin kelam

paragraphdalamhujan : 4 Juni 2008

Komentar (10) »

Dalam hujan

Hujan ini luruh

menyayat batin menjadi tangis

ada kelebat kilat dalam katanya tak sempat tersemat

hujan ini

mengoyak bagian mimpi manis

yang pernah singgah

di benak untuk jenak

hujan ini

menepikan diri dalam banyak arti

hujan ini

bagian luka yang tak jua terkuak

oleh waktu

yang berlalu

dan makin berlalu

terbawa lautan kelu…

Komentar (1) »

Santunnya Kasih

Pagi bening
Ada tetes embun di hijaunya daun
semilir angin pagi membelah lembah
kerjap mentari pagi yang baru bangun dari tidur panjangnya
pernik biru rindu menyapa
dan lihat…
serombongan kupu-kupu dengan sayap malaekatnya
menyerbu persada
dan berhenti di kuncup mawar di pojok halaman
sempat membuat wajah mungilnya mengembangkan sekuntum senyum
dibukanya pintu
melangkah dalam seribu satu asa
ya… ini adalah hari pertamanya
hari pertama untuk memulai langkah
belajar banyak hal.
Terbayang sudah senyum manis guru di kelas, wajah-wajah mungil sebayanya
yang akan mengajaknya belajar bersama
tak sabar, langkah kaki mungilnya semakin melebar, dan kemudian setengah berlari
dan tiba-tiba…………..
tak disadarainya ada seorang nenek tua yang matanya tak bisa membuka
di tepi jalan hendak ke seberang
dihentikannya langkah
wajah mungil itu meragu
ada banyak rindu akan hari ini
tapi
kemudian kaki mungilnya melangkah
menuju nenek tua, digandengnya dan ditanya hendak kemana
ke pasar katanya
sejenak dai terdiam, ia harus kembali ke arah berlawanan
ditetapkannya hati
di raihnya lengan nenek tua itu
ditemaninya berbelanja
dan diantarkan pulang ke rumahnya
tak terasa
mentari sudah ada di atas kepalanya
dia diam di rumpun melati tengah kota
tidak, gurunya pasti masih berada di sana besok pagi
teman-temannya juga
mama…………… mungkin akan sedikit marah
dari jauh dilihatnya teman-teman yang baru akan dikenalnya
sudah berjalan menuju pulang
akhirnya dia ikut melangkah pulang
mama pasti akan mengerti
aku pasti bisa menjelaskannya
dan esok hari pasti akan datang lagi
memaknai jutaan mimpi
untuk belajar lebih banyak lagi…

:untuk adek kecil yang penuh semangat dan kasih sayang
yang kutemui di ujung pagi ini
terima kasih untuk sebuah inspirasi…..

Komentar (5) »

LETIH « paragraphdalamhujan

Komentar bertahan »

Satu

satu
tak lebih
dan tak kurang
hanya satu
tempat lubuk merindu
kelak
satu pula tempat tertuju
ketika luruh
mengayuh waktu
menuju terbenamnya matahari

Komentar bertahan »