September 15, 2008
· Disimpan dalam Puisi
Kulihat bulan purnama semalam
cahyanya bening memendar
menghalau awan berkabut di malam berbintang
Tak ada kata terucap
memandang lukisan malam yang luar biasa
kulihat bulan purnama semalam
mengantarkan cahaya di pekatnya malam
dingin hembus angin laksana tasbihnya gemintang
tersungkur aku
dalam sujud panjang
di malam berpurnama semalam
Agustus 29, 2008
· Disimpan dalam Puisi
Mengarung luas samudra
mengepak sayap di cakrawala
mencari arti yang tersembunyi
dibalik kebesaran mayapada
laksana ombak
menerjang deras arus kehidupan
dan kemudian sunyi
menitik di tetes hari-hari
masih ada sampan yang terbawa kemarin
terombang-ambing di lautan lepas
tanpa pedoman
dan kemudian karam
terdampar di kehidupan
begitu sunyi
titik-titik kecil
menyebar
menjadi debu
dan berserakan sepanjang lautan
begitulah kita
ketika berhadapan
dengan kebesaran-NYA
maka kutepikan diri
di semenanjungmu sahaja
memeluk erat rasa
yang terus bersemayam didada
masih teramat panjang
perjalanan
yang mesti kulalui
namun pada-Mu jua
segala akan bertepi
Agustus 15, 2008
· Disimpan dalam Puisi
tiba-tiba
aku seperti merindu
nyanyian persada
yang menggelorakan semangat
aku seperti mimpi
berenang di lautan luas
tanpa tepi
aku burung layang-layang
yang terbang lepas di angkasa
mengobarkan
bakti
ke pangkuan pertiwi
aku merindu masa
di mana semangat menggelora dalam dada
tanpa raut semu
dan topeng wajah tak bernama
namun
aku hanyalah setitik debu kecil
yang terbang tertiup angin
tak ada yang bisa kuberi
bagimu
ibu pertiwi
Agustus 4, 2008
· Disimpan dalam Puisi
Matahari merah
sewarna darah
turun di batas garis cakrawala
menjemput senja ke peraduan sang malam
ada rindu
yang mengiring langkah perjalanan pulangku
menuju senyap,
ketika ronanya pun mengabur
berganti pekat
malam menyingkirkan rona yang tersisa
langit berubah warna
tapi cinta
akan selalu ada
karena esok
selalu masih ada cahaya
Juli 23, 2008
· Disimpan dalam sadness
perempuan,
melangkah sendirian
ada merah di matanya
menyala
pekat
menyisir langkahnya
saat mathri terbelah
tepat di atas kepalanya
perempuan diam
tangannya terkepal
langkahnya terhenti
tepat
di gerbang matahari
kecewa
yang bertumpuk
dan terus menumpuk
meninggalkan seonggok luka
membuatnya menjadi singa
semua bukan salahnya,
ketika keadaan
memaksanya menerkam sesama
bukankah sudah terlalu banyak korban?
dari mereka yang biasa saja
menjadi seorang yang penuh angkara
karena ketidakpuasan
entah pada siapa
Juni 4, 2008
· Disimpan dalam Tak Berkategori
Kutemui ia dalam gerimis
Ketika langit mulai berubah warna
Berjalan sendiri membawa luka
asa memendar, terpancar di ujung tatap
Gerimis mengantarkannya pada waktu
:halimun menyelubungiku
ia berhenti sejenak
memilah luka di genggam tangannya
“Aku mencarimu!”, teriaknya
Samar terdengar di ujung telinga
Sorot tajamnya menghujam
membekukan halimun di sekitar tubuhku
:Aku kaku
terbungkus beku
Kulihat luka meleleh
ada darah yang mengalir di matanya
sesaat sebelum ia memutariku
dan kemudian berlalu
meninggalkan jejak darah
di tiap jengkal langkahnya
di ujung gerimis yang semakin kelam
paragraphdalamhujan : 4 Juni 2008
Mei 22, 2008
· Disimpan dalam Puisi
Kakang,
Kecup sayang yang kau kirim
Telah cukup membangkitkan semangatku
Meski pagi ini, akan sama dengan pagi-pagi yang lain
Semangkuk piring untuk bersama, seteguk air untuk dicecap berdua
:aku dan anakmu
Kemarau masih berlanjut
air semakin sulit didapat
kau masih ingat sawah kita, kakang?
Tak dapat menghasilkan apa-apa
Benih dan pupuk semakin melambung
Gajiku sebagai buruh cuci juga tidak mampu untuk mencukup anak kita
apalagi membeli pupuk
Hari terus berganti
Sudah lebih dari lima tahun sejak kepergianmu
Pulanglah, kakang
Kubaca di koran, kota semakin kejam
Kulihat di televisi,
Kota tak senang pada pendatang
yang tak punya keahlian
Kakang,
Kita masih akan tetap bisa bertahan,
mesti tanpa uang
Sebab uang bukan segalanya
Tak inginkah kau melihat bagaimana anakmu bertumbuh?
Ia semakin sering menanyakan bapaknya
Kami menunggu
dengan penuh rindu
Di Ujung desa kita
Mei 15, 2008
· Disimpan dalam Puisi
: purnama
Pijar gemintang musnah seketika
Ditiup angin yang kembara
Meluluhlantakkan rasa yang pernah ada
: Ini tentang kita
yang tak bisa mengikat rasa
itu yang pernah kau kata
Tapi di mana
tepi buaian yang pernah kau kenalkan?
Mungkin badai telah menghapus jejaknya
April 28, 2008
· Disimpan dalam Puisi · Tagged Add new tag, rindu
Sayangku,
Adakah kau tahu
saat waktu berlalu
aku semakin mendambamu
selalu
Cintaku, di gerbang hidup kau kutunggu
dalam sendiriku
seketika badai
seketika hujan
seketika petir menyambar
aku tenang karna hadirmu
Bukan di depan mataku
sebab itu tak selalu perlu
Cukuplah kau
Ada dalam hatiku
April 26, 2008
· Disimpan dalam Puisi · Tagged Add new tag
Aku terdampar di antara dua hati. Keduanya indah. Keduanya ada. Dan diam mengisi sunyi.
aku terdampar di dua hati. Yang membuat diam, dalam sunyi. Aku terhimpit dalam dua hati yang mengayomi
Dengan cara mereka yang tak aku mengerti
dan dalam diamku
Menikmati semua ini