Kulihat Bulan Purnama Semalam

Kulihat bulan purnama semalam

cahyanya bening memendar

menghalau awan berkabut di malam berbintang

Tak ada kata terucap

memandang lukisan malam yang luar biasa

kulihat bulan purnama semalam

mengantarkan cahaya di pekatnya malam

dingin hembus angin laksana tasbihnya gemintang

tersungkur aku

dalam sujud panjang

di malam berpurnama semalam

Komentar (2) »

Perjalanan

Mengarung luas samudra
mengepak sayap di cakrawala
mencari arti yang tersembunyi
dibalik kebesaran mayapada
laksana ombak
menerjang deras arus kehidupan
dan kemudian sunyi
menitik di tetes hari-hari
masih ada sampan yang terbawa kemarin
terombang-ambing di lautan lepas
tanpa pedoman
dan kemudian karam
terdampar di kehidupan
begitu sunyi
titik-titik kecil
menyebar
menjadi debu
dan berserakan sepanjang lautan
begitulah kita
ketika berhadapan
dengan kebesaran-NYA
maka kutepikan diri
di semenanjungmu sahaja
memeluk erat rasa
yang terus bersemayam didada
masih teramat panjang
perjalanan
yang mesti kulalui
namun pada-Mu jua
segala akan bertepi

Komentar (6) »

tiba-tiba

aku seperti merindu

nyanyian persada

yang menggelorakan semangat

aku seperti mimpi

berenang di lautan luas

tanpa tepi

aku burung layang-layang

yang terbang lepas di angkasa

mengobarkan

bakti

ke pangkuan pertiwi

aku merindu masa

di mana semangat menggelora dalam dada

tanpa raut semu

dan topeng wajah tak bernama

namun

aku hanyalah setitik debu kecil

yang terbang tertiup angin

tak ada yang bisa kuberi

bagimu

ibu pertiwi

Komentar (4) »

Sajak Matahari

Matahari merah

sewarna darah

turun di batas garis cakrawala

menjemput senja ke peraduan sang malam

ada rindu

yang mengiring langkah perjalanan pulangku

menuju senyap,

ketika ronanya pun mengabur

berganti pekat

malam menyingkirkan rona yang tersisa

langit berubah warna

tapi cinta

akan selalu ada

karena esok

selalu masih ada cahaya

Komentar (11) »

Ode untuk Surti

perempuan,

melangkah sendirian

ada merah di matanya

menyala

 

pekat

menyisir langkahnya

saat mathri terbelah

tepat di atas kepalanya

 

perempuan diam

tangannya terkepal

langkahnya terhenti

tepat

di gerbang matahari

 

kecewa

yang bertumpuk

dan terus menumpuk

meninggalkan seonggok luka

membuatnya menjadi singa

 

semua bukan salahnya,

ketika keadaan

memaksanya menerkam sesama

bukankah sudah terlalu banyak korban?

 

dari mereka yang biasa saja

menjadi seorang yang penuh angkara

 

karena ketidakpuasan

 

entah pada siapa

 

Komentar (6) »

FATAMORGANA

Kutemui ia dalam gerimis
Ketika langit mulai berubah warna
Berjalan sendiri membawa luka
asa memendar, terpancar di ujung tatap
Gerimis mengantarkannya pada waktu
:halimun menyelubungiku

ia berhenti sejenak
memilah luka di genggam tangannya

“Aku mencarimu!”, teriaknya

Samar terdengar di ujung telinga
Sorot tajamnya menghujam
membekukan halimun di sekitar tubuhku

:Aku kaku
terbungkus beku

Kulihat luka meleleh
ada darah yang mengalir di matanya
sesaat sebelum ia memutariku
dan kemudian berlalu
meninggalkan jejak darah
di tiap jengkal langkahnya

di ujung gerimis yang semakin kelam

paragraphdalamhujan : 4 Juni 2008

Komentar (10) »

Sajak Istri Petani

Kakang,

Kecup sayang yang kau kirim

Telah cukup membangkitkan semangatku

Meski pagi ini, akan sama dengan pagi-pagi yang lain

Semangkuk piring untuk bersama, seteguk air untuk dicecap berdua

:aku dan anakmu

Kemarau masih berlanjut

air semakin sulit didapat

kau masih ingat sawah kita, kakang?

Tak dapat menghasilkan apa-apa

Benih dan pupuk semakin melambung

Gajiku sebagai buruh cuci juga tidak mampu untuk mencukup anak kita

apalagi membeli pupuk

Hari terus berganti

Sudah lebih dari lima tahun sejak kepergianmu

Pulanglah, kakang

Kubaca di koran, kota semakin kejam

Kulihat di televisi,

Kota tak senang pada pendatang

yang tak punya keahlian

Kakang,

Kita masih akan tetap bisa bertahan,

mesti tanpa uang

Sebab uang bukan segalanya

Tak inginkah kau melihat bagaimana anakmu bertumbuh?

Ia semakin sering menanyakan bapaknya

Kami menunggu

dengan penuh rindu

Di Ujung desa kita

 

 

Komentar (7) »

Badai yang Singgah di Hatimu

: purnama

Pijar gemintang musnah seketika

Ditiup angin yang kembara

Meluluhlantakkan rasa yang pernah ada

: Ini tentang kita

yang tak bisa mengikat rasa

itu yang pernah kau kata

Tapi di mana

tepi buaian yang pernah kau kenalkan?

Mungkin badai telah menghapus jejaknya

 

Komentar (9) »

RINDU

Sayangku,
Adakah kau tahu
saat waktu berlalu
aku semakin mendambamu
selalu
Cintaku, di gerbang hidup kau kutunggu
dalam sendiriku
seketika badai
seketika hujan
seketika petir menyambar
aku tenang karna hadirmu
Bukan di depan mataku
sebab itu tak selalu perlu
Cukuplah kau
Ada dalam hatiku

Komentar (4) »

Dua hati

Aku terdampar di antara dua hati. Keduanya indah. Keduanya ada. Dan diam mengisi sunyi.

aku terdampar di dua hati. Yang membuat diam, dalam sunyi. Aku terhimpit dalam dua hati yang mengayomi

Dengan cara mereka yang tak aku mengerti

dan dalam diamku

Menikmati semua ini

Komentar (4) »